Sewaktu fajar mulai hadir mengganti sang ratu malam yang mulai berangsur turun. Kokokkan ayam bergema di sudut telinga. Aku terbangun. Bergegas untuk menghadapNYA. Suara dentingan panci idari sudut ruangan bergema di telingaku, wow.. ternyata ibu sudah memasak di pagi ini. Setelah selesai ibu memasak, dia menghidangkan di meja makan, serentak harum aroma masakan membawaku terbang ke kursi meja makan. Selamat makan nak, "maaf ibu hanya bisa memasakkan ini untukmu, semenjak ayahmu pergi ibu tak lagi punya penghasilan tetap dari hasil berkebun." Aku hanya tersenyum sambil menyendok sup kacang buatan ibu, ibu melihat keluar jendela dan berkata "cerah ya hari ini, semangat ya nak mencangkul sawahnya". Setelah selesai makan, bergegas ke pojok ruangan untuk mengambil pacul dan segera bergegas ke sawah. Retakan tanah dan silir angin bercampur debu berhembus di sekeliling ...
Aku selalu ingin berjumpa dengan senja. Karena di senjaku pasti sesuatu akan bergemuruh dari dalam jiwaku. Airmata... Dialah tokoh utama dalam tulisan ini. Dia memenggal kesunyian dan dia memupuk indahnya senyuman. Dia banyak menemaniku dalam sebuah arti pemaknaan hidup. Dia membuatku tersenyum. Dia juga membuatku menjadi lebih bijaksana. Senja... Mengusung kepergian sang mentari dia terjaga akan keyakinannya. Airmata dan Senja... Penggalan kesunyian, kerinduan, dan senyuman dalam bingkai kepergian sang mentari. Saat itu yang selalu kutunggu selain berjumpa denganmu, kekasih. -AdityaPutu-