Langsung ke konten utama

Hampir 1 jam kami di KUA. Ibu belum juga datang. Pernikahan batal.

            Terik matahari pagi, akhirnya terlihat dari balik bilik bambu teras rumahku, setelah hampir sejam aku di depan meja rias. Bising riuh suara orang diruang tamu rumahku menunggu waktuku pergi ke KUA, "wow sebentar lagi akhirnya aku hidup bersamanya." Setelah sang penata rias (ibuku) merapikan rambutku dia berkata "sudah rapi.. ayo gantian ibu mau berdandan, nanti kamu jalan duluan ya beserta yang lain ibu menyusul dengan pak sarman (supir pribadi keluargaku)" aku pun keluar kamar, lalu aku melihat saudara-saudaraku serta ayah dan adikku yang telah rapi siap mengantarku pergi ke KUA. "Ayo kita berangkat, biar nanti ibu menyusul dengan pak sarman." Aku mengangguk dan langsung bergegas masuk kedalam mobil. 
        Di perjalanan pandanganku tak lepas dari luar jendela, menatap riuh kendaraan yang sudah ramai, padahal masih pagi dan ini hari diakhir pekan. Akhirnya kami sampai di KUA. Penghulu serta calon istriku (Imelda) beserta keluarganya pun telah menungguku dan keluarga. Lalu aku bergegas duduk bersampingan dengan calon istriku, meja bertaplak hijau dan buku yang dibawa sang penghulu. Hening dan sepi menyelimuti ruang KUA. Semua saksi berdiam diri, kami semua menunggu kedatangan sang ibunda tercinta yang sudah hampir sejam dia belum datang juga.
       Akhirnya ayah memutuskan untuk pulang kerumah dan menjemput ibu. Sesampainya dirumah, pak Sarman yang sedang memanaskan mobil berkata "Pak, kenapa ibu berdandan begitu lama?" Ayahpun bergegas kedalam kamar, melihat ibu yang sudah berdandan sangat cantik namun kepalanya terkulai lemas di kursi rias kamarnya. Ayah berteriak memanggil nama ibu, airmata mengalir bak derai air hujan tanpa mendung, mengusung kepergian sang ibunda. Ternyata ibu meninggalkan pesan di meja dengan sobekan kertas yang isinya "tunggu ibu ya.. ibu pasti datang meski dari surga." Ayahpun menangis dengan keras seraya memeluk tubuh ibu yang sudah tak bernyawa. Ibu memang sudah lama mengidap penyakit jantung. Namun dia tak selalu tersenyum dan tak pernah mengeluh dengan rasa sakit yang di deritanya.


-adityaputu-

Komentar