Sewaktu fajar mulai hadir mengganti sang ratu malam yang mulai berangsur turun. Kokokkan ayam bergema di sudut telinga. Aku terbangun. Bergegas untuk menghadapNYA. Suara dentingan panci idari sudut ruangan bergema di telingaku, wow.. ternyata ibu sudah memasak di pagi ini. Setelah selesai ibu memasak, dia menghidangkan di meja makan, serentak harum aroma masakan membawaku terbang ke kursi meja makan. Selamat makan nak, "maaf ibu hanya bisa memasakkan ini untukmu, semenjak ayahmu pergi ibu tak lagi punya penghasilan tetap dari hasil berkebun."
Aku hanya tersenyum sambil menyendok sup kacang buatan ibu, ibu melihat keluar jendela dan berkata "cerah ya hari ini, semangat ya nak mencangkul sawahnya". Setelah selesai makan, bergegas ke pojok ruangan untuk mengambil pacul dan segera bergegas ke sawah. Retakan tanah dan silir angin bercampur debu berhembus di sekeliling sawah. Aku mulai mencangkul sawah dengan penuh semangat, tak lama hujan pun turun dengan sangat deras, tangispun begitu kencang meniup badanku yang mulai kepayahan karena lelah.
Dari dalam rumah ibu teriak memanggilku, namun hanya terdengar sayup-sayup karena derai hujan yang begitu deras mengguyur desa. Ketika suara samar itu mulai menghilang aku melihat kearah rumah ibu tak lagi ada di jendela. Aku bergegas berlari kerumah ketika kudobrak pintu sebutir debu masuk ke dalam kelopak mataku, tak terelakkan langsung aku mengusap mata dengan kasar, pandanganku kabur terlihat samar ada tiga orang disana yang salah satunya ibu dan entah siapa dua orang itu, mereka mengenakan topeng. Seketika kedua orang tersebut mendekatiku dan menghentakkan barang tumpul ke pundakku. Aku pun terhuyung jatuh. Ketika tersadar rumahku penuh genangan air dan ibupun telah mengapung. Saat aku mendekat ibu sudah tak lagi bernafas. Maaf ibu karena sebutir debu aku tak bisa menyelamatkanmu.
-aditya putu-
Aku hanya tersenyum sambil menyendok sup kacang buatan ibu, ibu melihat keluar jendela dan berkata "cerah ya hari ini, semangat ya nak mencangkul sawahnya". Setelah selesai makan, bergegas ke pojok ruangan untuk mengambil pacul dan segera bergegas ke sawah. Retakan tanah dan silir angin bercampur debu berhembus di sekeliling sawah. Aku mulai mencangkul sawah dengan penuh semangat, tak lama hujan pun turun dengan sangat deras, tangispun begitu kencang meniup badanku yang mulai kepayahan karena lelah.
Dari dalam rumah ibu teriak memanggilku, namun hanya terdengar sayup-sayup karena derai hujan yang begitu deras mengguyur desa. Ketika suara samar itu mulai menghilang aku melihat kearah rumah ibu tak lagi ada di jendela. Aku bergegas berlari kerumah ketika kudobrak pintu sebutir debu masuk ke dalam kelopak mataku, tak terelakkan langsung aku mengusap mata dengan kasar, pandanganku kabur terlihat samar ada tiga orang disana yang salah satunya ibu dan entah siapa dua orang itu, mereka mengenakan topeng. Seketika kedua orang tersebut mendekatiku dan menghentakkan barang tumpul ke pundakku. Aku pun terhuyung jatuh. Ketika tersadar rumahku penuh genangan air dan ibupun telah mengapung. Saat aku mendekat ibu sudah tak lagi bernafas. Maaf ibu karena sebutir debu aku tak bisa menyelamatkanmu.
-aditya putu-
Komentar
Posting Komentar